Masa Kecil Yang Memalukan - Sahkan RUU PKS - Saatnya Lindungi Perempuan

Saatnya Lindungi Perempuan


Halo, perkenalkan nama saya Tesa usia 27 tahun. Sekarang saya masih freelance dan juga masih belajar untuk menyembuhkan luka batin dan mindset saya terhadap dunia luar. Pada usia sebelum sekolah ± 4 th saya mendapat perlakuan tidak senonoh dari guru ngaji saya. Akhirnya, karena keluarga ada yg tahu saya pun di larang keluar rumah. Yang berakibat saya jd lebih tertutup, tidak pandai berteman/bersosialisasi, takut dengan keramaian(hingga saat ini saya merasa takut ke kondangan/pemakaman). Saya yg masih belum tahu apa2 hanya bisa mengiyakan semua tuntutan keluarga (keluarga saya gak kaya, hanya mama yg cari uang, papa sendiri kadang dirumah kadang di warung main judi). Awalnya, memang keliatan baik2 saja, tapi penderitaan saya tidak berakhir di situ. Karna kakak perempuan tertua saya melanjutkan kuliah di luar kota jarang pulang, ditambah keluarga yg kurang harmonis karna faktor ekonomi.

Apa yg terjadi pada saya waktu dengan guru ngaji juga dilakukan oleh abang kandung saya sendiri. Memang betul tidak sampai berubungan suami-istri, hanya memegang-megang seperti yang dilakukan guru ngaji saya. Tapi hal ini di lakukannya bertahun-tahun sampai saya kelas 1 SMP. Sangat memalukan,tp saya sudah mencoba melawan. Ujung-ujungnya saya dipukuli, tp respon dari papa yg selalu ada di rumah malah membuat saya makin benci dan takut hingga saya menyimpan derita itu sendirian selama bertahun-tahun.

Akhirnya di usia 16 thn, saya mencoba memberanikan diri untuk menceritakan semuanya pada keluarga terlebih mama. Tp lagi-lagi, respon mama di luar bayangan saya, karena yg diajak bicara 4 mata hanya abang saya, sementara saya dititipkan pada abang tiri beda ayah selama ±4 bln.

Karena saya pikir saya harus melanjutkan sekolah, saya kembali ke rumah dan ingin melupakan semuanya meski tidak ada respon dari keluarga sekalipun. Saya berharap bisa bangkit dan memulai semuanya dari awal. Tapi itu tak semudah bayangan saya, saya kembali stress dan akhirnya di tahun 2010, saat kelas 3 SMA saya memutuskan bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari motor (bonceng). Yang ada akhirnya, saya koma dan lumpuh. Saya sempat lupa siapa saya, bagaimana cerita hidup saya tapi itu hanya sebentar. Saya rasanya kembali mengulang semua kejadian bejat dalam hidup saya, saya kembali merasa jd org gagal dlm hidup saya. Bahkan lebih parahnya lagi saya pikir saya akan gila. Keluarga hanya membantu saya bangkit/sembuh secara fisik. Tp mereka tidak pernah peduli dengan batin saya, mereka selalu bilang "Itu sudah terlambat, kenapa gak dari dulu". Seolah disini saya yg minta hal itu terjadi pd saya. Seolah saya pelacur cilik yg menggoda guru ngaji bahkan abang kandungnya. Jujur saya lelah, saya ingin berhenti disini. Tp suatu waktu saya berandai mungkin Tuhan ingin membuat saya spt ini agar saya bisa membantu mereka yg bahkan memiliki nasib yg lebih buruk dr saya. Tp untuk saat ini, untuk menyembuhkan luka batin saya saja masih butuh psikolog, saya masih suka menyalahkan diri sendiri, saya masih takut bersosialisasi padahal hal-hal itu yg sangat saya butuhkan. Saya berharap dengan cerita ini semoga teman-teman saya yg kuat makin dikuatkan dan kita semua bisa kembali bangkit dan menjadikan cerita kelam hanya dongeng kegelapan untuk pelajaran kedepannya. Aamiin. #SahkanRUUPKS #SaatnyaLindungiPerempuan

Tanda-tangani petisi di bit.ly/saatnyalindungiperempuan Suara Kamu sangat membantu wanita Indonesia terbebas dari segala bentuk
kekerasan seksual dan bebas bergerak untuk maju.

(c) The Body Shop (c) Cookie_Studio Freepik

0 Comments

Posting Komentar