Takdir: Tentang Rezeki, Jodoh dan Kematian yang Bisa Kita Usahakan

Allah mengetahui semua hal, sebelum, saat dan setelah peristiwa  terjadi tapi Allah adalah Dzat yang maha sempurna yang tidak bisa  dibandingkan dalam semua aspek dengan semua mahluk ataupun semua  ciptaan-Nya. Allah maha mengetahui, Allah mengetahui semua hal, sebelum,  saat dan setelah peristiwa terjadi tapi Allah bisa tidak ikut campur  dalam menentukan yang terjadi pada seseorang. Allah tahu semua hal tapi  bukan karena pengetahuannya tersebut yang menyebabkan sesuatu terjadi  pada kita melainkan sesuatu yang terjadi memang ialah konsekuensi atau  ganjaran dari semua usaha dan tingkah laku serta pilihan kita.

Takdir | http://christianitymy.com

Contoh, saya melihat kulit pisang dilantai lalu ada  seseorang yang akan lewat dan berpotensi menginjak kulit pisang  tersebut. Saya tahu bahwa jika dia menginjak kulit pisang tersebut orang  akan tergelincir, tapi apakah pengetahuan saya tersebut yang  menyebabkan ia tergelincir? Tidak, melainkan dia tergelincir karena dia  berjalan dan menginjak kulit pisang.

Takdir ada dua,  ada yang sudah digariskan, dituliskan oleh Allah jauh sebelum kita ada.  Takdir ini memberikan kita potensi bukan mengikat dan Allah tidak  menghendaki ataupun tidak melarang kita berbeda atau mengusahakan diri  agar menghindari takdir yang kita tidak kehendaki. Dalam arti kita boleh  memilih takdir namun tetap tidak bisa keluar dari sistem yang  ditetapkan Allah.

Kita mengenal istilah sunnatullah,  yaitu kebiasaan, sistem yang diberlakukan oleh Allah. Contoh, apakah  bisa orang sakit kemudian sembuh dari sakitnya tanpa minum obat? Apakah  bisa seorang yang ingin menuju suatu tempat tapi tidak berjalan atau  tidak menggunakan kendaraan? Sistemnya berkata tidak bisa. Apakah bisa  menunggu rezeki (makanan) jatuh dari langit? Sistemnya berkata tidak  bisa. Akan tetapi perlu dicatat bahwa sistem yang tidak bisa namun Allah  mempunyai kekuasaan penuh melakukan apapun yang disebut innayatullah, yaitu sesuatu terjadi diluar kebiasaan, akal dan logika manusia.  Seperti penyakit yang sembuh setelah berbagai upaya medis gagal, dll.

Meluruskan Pendapat tentang rezeki, Jodoh dan Kematian

Rezeki,  telah ditetapkan namun besaran rezeki yang kita dapat ialah tergantung  usaha dan doa kita. Jadi kita telah benar berkeyakinan bahwa rezeki sudah  diatur namun dengan syarat kita berkeyakinan seperti itu saat kita  sedang berusaha mencarinya (bekerja).

Jodoh, sama  seperti takdir secara umum. Jodoh juga ada dua, ada yang Allah tetapkan  dan ada yang Allah ketahui. Contoh, seseorang yang menikah dengan  non-muslim itu bukan karena kesalahan Allah menetapkan ia demikian.  Namun karena memang tidak ada atau minimnya usaha dalam memilih pasangan  yang lebih baik.

Kematian juga demikian, ada amalan  yang memperpanjang usai, seperti silaturahim. Orang memakai perangkat  keamanan berkendara. Allah tahu kita akan mati dimana dan kapan, tapi  pengetahuan Allah boleh jadi tidak sama dengan yang Ia tetapkan diawal.

Takdir Merupakan Sistem, Didalamnya Juga Terkandung Batasan

Jika  anda melempar bola kedinding maka sunnatullah, bola itu akan memantul.  Tapi siapa yang mengatur kekuatan dan arah pantulannya? Anda sendiri.  Namun Allah yang menetapkan bahwa bola pasti memantul.

Jika  anda memiliki dua mobil, satunya bisa menempuh kecepatan maksimal  100km/jam dan satunya lagi 50km/jam. Saat anda pakai, itu kendali penuh  anda sendiri mau melajukannya secepat apa tapi tidak bisa melebihi batas  kecepatan yang ditentukan oleh pabrik atau teknisi pembuatnya.

Fungsi Doa

Doa  sangat dibutuhkan karena sebaik apapun kita menjalankan sistem yang  telah ditetapkan Allah, tetap menjadi hal mutlak bahwa Allah-lah yang akan menjadikan hasilnya. Maka kita senantiasa selalu hanya mengharap  dan berdoa kepada-Nya.

0 Comments

Posting Komentar