Media Sosial Membunuh Kehidupan Bersosial

Seminar Peran Netizen dan Blogger dalam Kampanye Lombok Bangkit
Seminar Peran Netizen dan Blogger dalam Kampanye Lombok Bangkit

Media sosial atau Medsos sudah tidak asing lagi di telinga kita, media sosial yang merupakan media online ini digunakan sebagai sarana pergaulan sosial secara online melalui jaringan internet. Di media sosial, para penggunanya dapat saling berkomunikasi, berinteraksi, berbagi networking, dan berbagai kegiatan lainnya. Media sosial menggunakan teknologi berbasis website atau aplikasi yang mengubah suatu bentuk komunikasi ke dalam bentuk diaolog interaktif. Adapun beberapa contoh media sosial yang banyak digunakan masyarakat ialah YouTube, Facebook, Instagram, Whatshapp, Line, Twitter  dan lain-lain. Media sosial banyak digunakan dari berbagai kalangan, mulai dari orang tua, orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak kini telah menggunakan medsos. Tentu mereka memiliki alasan yang berbeda-beda dalam membuat akun medsosnya, entah itu untuk berjualan, menambah teman, ajang untuk menunjukkan diri atau menunjukkan eksistensi, dan lain sebagainya.

Para pengguna media sosial semakin gemar atau aktif di akun medsosnya karena banyaknya fitur yang dimiliki atau disediakan oleh aplikasi-aplikasi medsos tersebut. Fitur-fitur yang disediakan seperti berbagi foto, berbagi video, dan lain-lain. Dengan adanya fitur-fitur tersebut membuat para pengguna medsos semakin betah berlama-lama di akun medsosnya. Hal ini membuat para pengguna medsos menjadikan akun media sosialnya sebagai tempat untuk menunjukkan eksistensi mereka. Eksisteknsisnya ditunjukkan dengan memperlihatkan kehidupan pribadi di akun medsosnya untuk mendapatkan like dan komentar. Adanya like dan komentar tersebut menjadi tolak ukur tinggi atau rendahnya eksistensi mereka di media sosial..


Di kehidupan sosial masyarakat pengguna media sosial tidak dapat menunjukkan eksistensinya secara penuh, tidak menunjukkan pribadinya secara utuh, sehingga di kehidupan sosial masyarakat sebenarnya, pengguna media sosial menutup diri dan membuka diri di akun media sosial miliknya. Contoh kecil saja, dalam satu lingkungan keluarga anaknya memiliki akun media sosial ia menceritakan keluh kesahnya di akun medsos miliknya bukan menceritakan apa yang dialami dan dirasakan kepada orangtuanya. Sehingga hal ini membuat si anak tertutup di lingkungan keluarganya. Contoh lain yang lebih ekstrim lagi ialah dalam satu keluarga terdiri dari 4 orang ayah, ibu, kakak dan adek, yang mana kempatnya memiliki akun media sosial. Keempatnya sedang berkumpul di ruang tamu, tetapi tidak ada yang membuka suara terlebih dulu tetapi dalam ruang tamu tersebut mereka berinteraksi melalui medsos mereka saling memberikan komentar satu sama lain, tapi di dunia nyatanya tidak terjadi interaksi apa-apa, sungguh miris bukan ? 

Media sosial memang sudah sangat membutakan mata para penggunanya, memberikan dampak yang luar biasa dengan membunuh kehidupan bersosial penggunanya di masyarakat. Orang yang biasa bertemu diluar kini cukup dengan melalui whatshapp, video call, instagram, dan lain-lain. Hal ini akan menciptakan kehidupan sosial yang canggung ketika bertemu teman secara langsung karena lebih nyaman jika melalui media sosial. Contohnya, dalam lingkungan sekolah, ada seorang pelajar pengguna medsos yang sibuk dengan akun medsosnya dikala gurunya sedang menjelaskan mata pelajar di depan kelas, bukan menjalin interaksi di dalam kelas justru sibuk berkomentar di medsosnya dengan teman sekelasnya dan diluar kelasnya. 

Hal lain yang kita biasa lihat di kehidupan sosial masyarakat ialah saling membantu dan tolong menolong satu sama lain, yang mana hal tersebut perlahan-lahan mulai luntur di masyarakat kita, bagaimana tidak ? kini para pengguna medsos yang menjadikan medsosnya sebagai ajang untuk eksistensi memanfaatkan suatu kejadian atau peristiwa seperti contoh kecelakan, pengguna medsos lebih mementingkan membuat video atau mengupload foto kecelakaan tersebut ke akunnya untuk melihat like atau komentarnya bukan malah memberikan pertolongan kepada orang yang mengalami kecelakaan tersebut.

Secara tidak langsung, tanpa kita sadari media sosial perlahan-lahan membunuh kehidupan bersosial kita di masyarakat. Untuk itu bagi para pengguna media sosial atau medsos buka mata dan sadarkan diri bahwa dunia yang sebenarnya adalah lingkungan tempat tinggalmu, lingkungan dengan kehidupan sosial di masyarakat. Bangun interaksi dengan orang-orang disekitarmu bukan dengan smartphonemu yang penuh dengan akun media sosial. Jangan biarkan media sosial membunuh kehidupan bersosialmu.


Shoji Duwi Sandini

0 Comments

Posting Komentar