Manajemen Peserta Didik Berbasis Single Sex Area (SMPN 1 Kediri)

Sharing Session


Unduh Proposal Penelitian Skripsi Manajemen Peserta Didik Berbasis Single Sex Area (SMPN 1 Kediri) - NesiaNet.docx

MANAJEMEN PESERTA DIDIK BERBASIS SINGLE SEX AREA
STUDI KASUS SMP NEGERI 1 KEDIRI KABUPATEN LOMBOK BARAT TAHUN 2016 - 2017

PROPOSAL PENELITIAN

Disusun Untuk Pemenuhan Tugas Ujian Tengah Semester III
Mata Kuliah Metodologi Penelitian Sosial



Oleh
Humaedi Suhada (L1B016032)


PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS MATARAM
2017

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Menjadi sekolah/madrasah yang baik dan unggul dalam kompetisi merupakan harapan setiap institusi pendidikan. Konsep pendidikan unggul adalah dengan perbaikan di setiap sektor pendidikan, baik dari kurikulum, fasilitas, human dan social. Peran pengelola pendidikan diharapkan dapat merubah sesuatu yang kurang baik menjadi lebih baik, dari sesuatu yang kurang hingga bisa tercukupi, dari yang tertinggal hingga terdepan dan dari yang terbelakang hingga menjadi yang terbanggakan. Dalam hal ini, peran manajemen pendidikan sangatlah di butuhkan guna mencapai harapan tersebut.
Manajemen pendidikan merupakan langkah dalam mengelola pendidikan guna menerapkan strategi kedepan. Bagaimana hal kecil saat ini dapat menjadi besar di kemudian hari, bulan, tahun bahkan abad. Disinilah fungsi dan posisi manajemen pendidikan terhadap langkah perkembangan sekolah. Dengan Manajemen sekolah yang baik diharapkan tercipta sebuah pengelolaan pendidikan dan program yang unik dalam perkembangan sekolah, merupakan aset terpenting bagi dunia pendidikan Indonesia agar semakin mempertajam pendidikan kedepannya. Terutama yang siafatnya penanaman budi luhur terhadap iklim sekolah. Seperti yang di terapkan oleh SMPN 1 Kediri pada saat ini yang berupa Single Sex Area.

Manajemen SMPN 1 Kediri diharapkan mampu mengaplikasikan diri menjadi kultur Madrasah umum yang bersifat semi Pesantren, dan meneruskan budi luhur daerah yang masih fanantik terhadap pesantren. Dalam hal ini, SMPN 1 Kediri lebih menerapkan manejemen kelas-nya, yaitu pemisahan antara area siswa dan siswi, atau yang biasa di sebut sebagai single sex area.
Ditinjau dari aspek psikologisnya, penerapan single sex area diharapkan mampu meminimalisir pergaulan secara terbuka lebar untuk mencegah pergaualan bebas. Pada fase ini merupakan tahap dimana siswa tersebut tergolong sebagai anak remaja.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa, remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Ia tidak termasuk golongan anak, tetapi ia pula tidak termasuk golongan orang dewasa atau golongan tua. Remaja ada diantara anak dan orang dewasa. Remaja masih belum mampu untuk menguasai fungsi-fungsi fisik maupun  psikisnya.
Landasan inilah yang menjadi tekad kuat SMPN 1 Kediri menerapkan sistem single sex area. Banyak kemungkinan jika hal itu tidak di lakukan, Mengingat pergaulan saat ini sangat menyimpang dari kaedah-kaedah norma dalam beragama dan ber-budaya saling menghormati antara lawan jenis. Sehingga sedikit langkah kecil ini diharapkan mampu meminimalisir kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
Kemudian dari pada itu, konsep manajemen kelas sangat berpengaruh terhadap perkembangan belajar siswa, Karena manajemen kelas merupakan kegiatan pengelolaan guru untuk menumbuh kembangkan prilaku murid, sehingga peserta didik dapat belajar dengan efektif, Suasana belajar yang efektif dan menyenangkan dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih semangat.
Menurut Dirjen Dikdasmen yang menjadi tujuan manajemen kelas adalah:
1.Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik utuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
2.Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
3.Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perebot belajar yang mendukung dan memungkinkan peserta didik belajar sesuai lingkungan sosial, emosional dan intelektual siswa dalam kelas.
4.Membina dan membimbing peserta didik sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.

Ketercapaian itu dapat di deteksi dari:
1.Anak-anak memberikan respon yang setimpal terhadap perlakuan sopan dan penuh perhatian dari orang dewasa. Artinya bahwa prilaku yang diperlihatkan siswa seberapa tinggi, seberapa baik dan sebeberapa besar terhadap pola prilaku yang diperlihatkan guru kepadanya di dalam kelas.
2.Mereka akan bekerja dengan rajin dan penuh konsentrasi dalam melakukan tugas-tugas yang sesuai dengan kemampuannya.
Perilaku yang di perlihatkan guru berupa kinerja dan pola prilaku orang dewasa dalam nilai dan norma balikannya akan berupa peniruan dan pencontohan oleh siswa baik atau buruknya amat bergantung kepada bagiamana prilaku itu diperankan.
Kemudian dari pada itu, adapun indiator keberhasilan dalam pengelolaan kelas adalah:
1.Terciptanya suasana/ kondisi belajar mengajar yang kondusif (tertib, lancar,berdisiplin dan bergairah)
2.Terjadinya hubungan interpersonal yang baik antara guru dan peserta didik dan antara peserta didik dengan peserta didik.
Dalam kegiatan pendidikan di sekolah, Komponen peserta didik sangat di butuhkan, karena peserta didik merupakan subjek sekaligus objek dalam proses tranformasi ilmu pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang di perlukan. keberadaan peserta didik tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan, sekaligus sebagai bagian dari mutu manajemen peserta didik. sehingga mereka dapat tumbuh berkembang sesuai dengan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan  kejiwaan.
Pengertian peserta didik sendiri adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidian tertentu (Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional). Atau dengan simpulan makna dari beberapa definisi para tokoh bahwa peserta didik merupakan orang/ individu yang mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya agar tumbuh dan berkembang secara baik serta mempunyai kepuasan dalam menerima pelajaran yang di berikan oleh pendidiknya.
Prinsip manajemen peserta didik adalah sebagai wahana untuk mengembangkan diri se-optimal mungin, baik yang berkenaan dengan segi-segi potensi individualitas, sosial, aspirasi, kebutuhan dan segi-segi potensi lainnya.
Prinsip manajemen peserta didik adalah sebagai wahana untuk mengembangkan diri se-optimal mungin, baik yang berkenaan dengan segi-segi potensi individualitas, sosial, aspirasi, kebutuhan dan segi-segi potensi lainnya. Agar tujuan dan fungsi manjemen peserta didik dapat tercapai.

Manajemen kelas dan manajemen peserta didik harus-lah relevan. Relevan yang dimaksud adalah, peserta didik akan merasa nyaman dalam belajarnya apabila didukung oleh iklim kelas yang sesuai dengan harapan, Sehingga akan terjadi stimulus pada hasil yang akan diraih. Hal yang semacam ini tentunya merupakan tugas terpenting seorang manajer (kepala sekolah).
Berbagai macam gaya yang dilakukan untuk lebih mengunggulkan sekolah masing-masing. Seperti ada sekolah yang berbasis gender dan semacamnya. Sekolah-sekolah ini adalah harapan masa depan bangsa dan negara.
Secara etimologis, Jhon M. Echol dan Hasan Shadily mendefinisikan gender berasal dari kata gender yang berarti jenis kelamin (1996). Tetapi Gender merupakan perbedaan jenis kelamin yang bukan disebabkan oleh perbedaan biologis dan bukan kodrat Tuhan, melainkan diciptakan baik oleh laki-laki maupun perempuan melalui proses sosial budaya yang panjang.
Perbedaan perilaku antara pria dan wanita, selain disebabkan oleh faktor biologis sebagian besar justru terbenetuk melalui proses sosial dan cultural. Oleh karena itu gender dapat berubah dari tempat ketempat, waktu ke waktu, bahkan antar kelas sosial ekonomi masyarakat.
Dalam dunia pendidikan, Kesetaran tidak harus sama atau campur pada satu ruangan kelas. Kesetaraan adalah pembagian waktu dan pembagian mengajar yang pas sama adil antara pelajar laki-laki dan pelajar perempuan. Seperti yang telah di terapkan oleh SMPN 1 Kediri sejak 2016.
Pola manajemen yang terus berjalan dan berkembang dengan baik di SMPN 1 Kediri, mampu mengantarkan sekolah hingga menjadi sekolah yang bertaraf semi Pesantren dan sangat menghargai tentang gender. Dimulai dari sekolah Islam yang pada awalnya biasa seperti sekolah pada umumnya, yaitu satu kelas campur antara siswa putra dan siswi putri, kemudian di pisah kelas siswa putra dan siswa putri (antar siswa putra dan siswi putri tidak campur dalam satu ruangan kelas lagi) hingga sekarang di pisah antar lingkungan / area siswa putra dengan lingkungan siswi putri. Hanya saja guru yang sama (tetap campur / tidak ada pemisahan gen).
Hal inilah yang menarik untuk di teliti dan dikaji lebih spesifik tentang dampak prestasi siswa dari awalnya satu kelas, pemisahan kelas hingga pemisahan area kelas, dan tanggapan wali murid hingga tanggapan pemerintah terkait (Kemenag, Kemendiknas, dan Pemerintah pusat daerah sendiri).

1.2. Rumusan Masalah
1.Apa yang melatarbelakagi SMPN 1 Kediri menerapkan sistem single sex area?
2.Bagaimana implementasi manajemen peserta didik berbasis single sex area di SMPN 1 Kediri?
3.Bagaimana dampak single sex area terhadap prestasi belajar siswa SMPN 1 Kediri?

1.3. Tujuan Penelitian
1.Untuk Mengetahui Latar Belakang Penerapan Single Sex Area Di SMPN 1 Kediri
2.Untuk Mengetahui Implementasi Manajemen Peserta Didik Berbasis Single Sex Area Di SMPN 1 Kediri
3.Untuk Mengetahui Dampak Single Sex Area Terhadap Prestasi Belajar Siswa SMPN 1 Kediri.
4.Untuk Mengetahui Pendapat Wali Murid Dan Pemerintah Daerah Terhadap Single Sex Area Yang Di Lakukan SMPN 1 Kediri.

1.4. Batasan Masalah
1.Bagaimana pola penerapan manajemen peserta didik yang berbasis single sex area di SMPN 1 Kediri?”

1.5. Manfaat Penelitian
Penelitian ini tidak hanya ingin menghasilkan pengetahuan deskriptif dan fenomenologis, tetapi memberikan kontribusi akademis berupa peningkatan pengetahuan perilaku toleran dan prestasi single sex area bagi peserta didik. Di samping itu, penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi usaha-usaha untuk melakukan pendidikan inklusif dan toleran bagi peserta didik SMPN 1 Kediri.

1.6. Kerangka Berpikir


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.Konsep Dasar Manajemen Peserta Didik
Manajemen peserta didik merupakan dua kata dari “manajemen dan peserta didik” yang saling interes antara dua kata tersebut. Manajemen sendiri diartikan bermacam-macam. Secara etimologi, kata manajemen merupakan terjemanahan dari management (bahasa Inggris). Kata ini berasal dari bahasa Latin, Prancis dan Italia, yaitu manus,mano,manage/manage dan meneggiare. Maneggiare berarti melatih kuda agar dapat melangkah dan menari seperti yang dikehendaki pelatihnya.
Harold Koontz mendefinisikan manajemen sebagai usaha mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain. Dengan demikian menejer mengadakan koordinasi atas sejumlah aktifitas orang lain yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penempatan , pengarahan dan pengendalian.
Dari pendapat diatas, jelaslah bahwa manajemen adalah suatu proses yang dilakukan agar suatu usaha dapat berjalan dengan baik memerlukan perencanaan, pemikiran, pengarahan dan pengaturan serta mempergunakan/mngikutsertakan semua potensi yang ada, baik personal maupun material secara efektif dan efisien.
Pengertian peserta didik sendiri menurut ketentuan umum Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.
Dapatlah disimpulkan bahwa, manajemen peserta didik merupakan konsep perencanaan pendidikan yang diukur dari human / peserta didiknya masing-masing. Tentunya berbeda manajemen peserta didik anak SD dengan anak SMA.
Menurut Silalahi manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengisian staf, pemimpinan, dan pengontrolan untuk optimasi penggunaan sumber-sumber dan pelaksanaan tugas-tugas dalam mencapai tujuan organisasional secara efektif dan efisien”.

Dari pengertian tersebut, konsep dasar manejemen adalah mengatur dan memajukan suatu usaha diri menjadi lebih baik dan berkembang. hal inilah yang tertanam dari pengertian dan tujuan manejemen. Sehingga semua usaha lebih terarah dan mencapai tujuan yang di inginkan.
Secara etimologi, peserta didik dalam bahasa arab disebut dengnan tilmidz bentuk jamaknya adalah talamiz, yang artinya adalah murid. Maksudnya adalah orang-orang yang mengingikan ilmu. Dalam bahasa arab dikenal juga dengan istilah tahalib bentuk jamaknya adalah thullab yanga artinya adalah orang-orang yang mencari, maksudnya dalah orang-orang yang mencari ilmu.
Secara detail, para ahli mendefinisakan peserta didik adalah orang yang belajar di suatu tempat tertentu, atau peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi dasar yang masih perlu dikembangkan. Sedangkan menurut Undang-Undang Republik Indonesia, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusah mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
B.Perkembangan Peserta Didik
Secara etimologis perkembangan berasal dari kata kembang yang berarti maju menjadi lebih baik. Secara terminilogis perkembangan diartikan sebagai sebuah proses kualitatif yang mengacu pada penyempurnaan fungsi sosial dan psikologis dalam diri seseorang dan berlangsung sepanjang hidup manusia.
Menurut Nagel perkembangan merupakan pengertian dimana terdapat struktur yang terorganisasikan dan mempunyai fungsi – fungsi tertentu, oleh karena itu bilamana terjadi perubahan struktur baik dalam organisasi maupun dalam bentuk akan mengakibatkan perubahan fungsi.
Kasiram menegaskan bahwa perkembangan mengandung makna adanya pemunculan sifat - sifat yang baru yang berbeda dari sebelumnya mengandung arti bahwa perkembangan merupakan perubahan sifat individu menuju kesempurnaan yang merupakan penyempurnaan dari sifat - sifat sebelumnya.

C.Teori-teori Perkembangan



1.Teori Nativisme.
Kaum nativisme (Schopenhouer) ini berpendirian bahwa perkembangan anak ditentukan oleh pembawaannya sedangkan pengaruh lingkunan hidupnya hanya sedikit saja. Baik buruknya perkembangan anak sepenuhnya tergantung pada pembawaannya.
2.Teori Empirisme.
Kaum empirist (John Lock) berpendirian bahwa perkembangan anak sepenuhnya tergantung pada faktor lingkungan, sedang factor bakat tidak ada pengaruhnya. Dasar pikiran yang digunakan ialah bahwa pada waktu dilahirkan jiwa anak dalam keadaan suci, bersih seperti kertas putih yang belum ditulisi sehingga dapat ditulisi menurut kehendak penulisnya. Pendapat ini terkenal dengan nama teori tabularasa.
3.Teori Konvergensi.
Teori ini merupakan perpaduan antara pandangan nativisme dan empirisme yang keduanya dipandang sangat berat sebelah. Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan anak dihasilkan dari kerja sama antara kedua faktor yaitu pembawaan dan lingkungan. Seorang anak pada waktu dilahirkan telah membawa potensi yang akan berkembang maka lingkungan yang memungkinkan potensi – potensi tersebut berkembang dengan baik.
4.Teori Rekapitulasi
Menurut teori rekapitulasi perkembangan individu merupakan ulangan dari perkembangan sejenisnya. Teori rekapitulasi dikemukakan oleh Stanley Hall. Sebagai pakar biologi dia berpendapat bahwa perkembangan jasmani individu merupakan ulangan dari pertumbuhan jenisnya.
5.Teori Naturalisme.
Teori natularisme dipelopori oleh J.J. Rousseau. Menurutnya manusia pada dasarnya baik ia jadi buruk dan jahat karena pengaruh kebudayaan. Maka dari itu ia menganjurkan supaya kembali kepada alam dan menjauhkan diri dari pengaruh kebudayaan. Pendidikan yang baik ialah memberi kebiasaan kepada anak untuk berkembang menurut kodrat yang baik. Dalam pendidikan guru tidak boleh menghukum tetapi hukuman harus diberikan oleh alam sendiri. Teori yang dikemukakan oleh J.J. Rousseau berkaitan dengan anak dalam kontek pendidikan adalah lemah sebab tidak semua kebudayaan memberi pengaruh baik.
Kesimpulannya adalah bahwa perkembangan anak dalam segala aspek yang dimilikinya selain dipengaruhi faktor internal berupa potensi yang dianugerahkan tuhan kepadanya juga ditentukan oleh faktor eksternal yakni lingkungan tempat ia tinggal. Seorang anak yang tinggal dalam lingkungan yang sehat dan potensial mendukung mereka berkembang kearah yang lebih baik akan menjadikannya pribadi yang baik begitupun sebaliknya.
D.Karakteristik Peserta Didik
Menurut Sutari Imam Barnadib, Suwarno, dan Siti Mechati peserta didik memiliki karakteristik tertentu yakni;
1.Belum memiliki pribadi dewasa susila sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik (Guru).
2.Masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya sehingga menjadi tanggung jawab pendidik.
3.Memiliki sifat – sifat dasar manusia yang sedang berkembang secara terpadu yaitu kebutuhan biologis, rohani, sosial, intelegensi, emosi, kemampuan berbicara, anggota tubuh untuk bekerja, latar belakang sosial, latar belakang biologis, serta perbedaan individual.

E.Definisi Single Sex Area
Single dan Sex berasal dari bahasa Inggris yang masing-masing berarti sendiri dan jenis kelamin. Sehingga apabila diterjemahkan secara epistemology berarti lokasi yang dipisah berdasarkan jenis kelamin masing-masing. Hal ini dimaksudkan sebagai pengelompokan manusia (siswa) berdasarkan pada jenis kelamin masing-masing.

Istilah single sex area pertama kali di gunakan oleh SMPN 1 Kediri pada tahun 2016 silam. Karena memang belum ada pembahasan atau arti dari istilah dari single sex area. Pada pembahasan sumber belajar sebelumnya hanya tentang “gender”, persamaan / kesetaraan dan pengaplikasiaannaya. Sehingga pada ranah penelitiaan ini merupakan wajah baru dari pengembangan penelitian / pembahasan tentang gender.

F.Sejarah Pemberlakuan Single Sex Are di SMPN 1 Kediri
Guna mencegah terjadinya pelecehan seksual di lingkungan sekolah, Kepala SMP Negeri 1 Kediri Kabupaten Lombok Barat membuat terobosan baru dengan memisahkan ruang kelas antara siswa dan siswi, ini pertama kalinya dilakukan di sekolah negeri di Provinsi NTB. Pemisahan kelas ini mengacu pada kearifan lokal dimana lokasi SMPN 1 Kediri berada, karena Kediri dikenal sebagai kota santri. Selain melakukan pemisahan ruang kelas, Kepsek SMPN 1 Kediri, Muzapir juga juga mewajibkan siswa siswi untuk memakai pakaian rapi seperti untuk siswi menggunakan setelan baju panjang dan tidak dimasukkan ke rok. Kebijakan pemisahan kelas ini dilakukan sejak 2015, berawal dari musyawarah kepala sekolah dengan komite sekolah karena banyaknya siswi yang kerap kali bersinggungan dengan siswa yang akhirnya berujung di guru BP. Kebijakan ini mendapat apresiasi dari wali murid dan masyarakat sekitar serta berdampak pada meningkatnya jumlah peserta didik baru dan kondusifitas sekolah pada tahun 2017.
Menurut data BP/BK hampir tiap minggu selalu ada siswi yang menangis dan melapor ke BP itu juga menjadi pertimbangan dalam menerbitkan kebijakan tersebut. Juga pengalaman kepala SMPN 1 Kediri, Muzapir yang pernah meninjau langsung kebijakan school for boys and school for girls di Selandia Baru

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto , Suharismi. 1989. Prosedur Penelitian: Suatu Praktek, Jakarta: Bina Aksara
Al-Habsyi, Husain. 1991. Kamus Al-Kautsar Lengkap Arab – Indonesia . Bangil. Yayasan Pesantren Islam.
Asmani, Ma’ruf Jamal. 2012. Tips Aplikasi Manajemen Sekolah. Yogyakarta, Diva Press.
Ametembun, 1981. Manajemen Kelas: Penuntun Bagi Guru dan Calon Guru Jilid I dan II Bandung. Suri.
Depdikbud, 1999. Panduan Manajemen Sekolah. Jakarta.
Dirjen POUD dan Dirjen Dikdasmen,1996. Pengelolaan Kelas: Seri Peningkatan Mutu 2. Jakarta. Depdagri dan Depdikbud.
Faqih, Mansour. 1996. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rahayu, Siti H dan F.J Monks. 2006. Psikologi Perkembangan, Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada Universty Press.
Syamsussabri, Muhammad. 2013. “Konsep Dasar Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik”, Jurnal Perkembangan Peserta Didik, Volume 1 Nomor 1.
Shadily, Hasan dan Jhon M Echol. 1996. Kamus Besar Inggris - Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Tim  Dosen  Administrasi  Pendidikan  Universitas  Pendidikan  Indonesia,  2012. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Undang-Undang Pendidikan Nasional RI No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 Nomer 4.
Umam, Cholil. 1998. Iktishar Psikologi Pendidikan. Surabaya: Duta Aksara Surabaya.


Humaedi Suhada

0 Comments

Posting Komentar