Perkembangan Kegiatan Kampanye di Indonesia

Sharing Session

Unduh Makalah Perkembangan Kegiatan Kampanye di Indonesia - NesiaNet.doc

Tugas UTS Kampanye dan Propaganda
Humaedi Suhada (L1B016032)
A. Pengertian Kampanye dan Propaganda
Menurut pasal 1 ayat 26 Undang-Undang Nomor 10 tahun 2008 tentang pemilihan umum DPR, DPD, DPRD yang disebut kampanye adalah kegiatan peserta pemilu untuk meyakinkan para pemilih dengan menawarkan visi, misi dan program peserta pemilu. Jadi berdasarkan pada definisi diatas arti kampanye adalah sebuah purpose to something. Kampanye juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan komunikasi yang merujuk pada memberikan pengaruh kepada orang lain untuk bersikap dan berperilaku sesuai dengan yang diinginkan oleh komunikator.
Sementara  pengertian  kampanye  yang  dikemukakan  oleh  Kotler  dan  Roberto
(dalam Cangara, 2011:229) adalah sebagai berikut:
“campaign is an organized effort conducted by one group (the change agent)which intends to persuade other (the target adopters), to accept, modify, or abandon certain ideas, attitudes, practices and behavior. (kampanye ialah sebuah upaya yang dikelola oleh satu kelompok, (agen perubahan) yang ditujukan untuk mempersuasi target sasaran agar bisa menrima memodifikasi atau membuang ide, sikap dan perilaku tertentu)”.

Kampanye setidaknya harus mengandung 4 hal yaitu :
1. Tindakan   kampanye   yang  ditujukan   untuk   menciptkan   efek   atau dampak tertentu
2. Jumlah khalayak sasaran yang besar,
3. Biasanya dipusatkan dalam kurun waktu tertentu, dan
4. Melalui serangkaian tindakan komunikasi yang terorganisasi.

Jadi dapat disimpulkan bahwa, kampanye adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mendapatkan simpati dari masyarakat dengan memperlihatkan hal-hal yang baik dalam  dirinya dan menyampaikan tujuan atau visi misi yang dimilikinya.
Secara etimologis, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, propaganda berarti penerangan (paham, pendapat, dan sebagainya) yang benar atau yang salah, yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang banyak agar menganut suatu aliran paham, sikap atau arah tindakan tertentu.
The Grolier International Dictionary mengartikan propaganda sebagai penyebaran secara sistematis doktrin tertentu atau pernyataan yang direkayasa, yang merefleksikan suatu aliran pikiran, pandangan, atau kepentingan. Dalam Encyclopaedia Britanical (1997) dan The Oxford Companion to the English Language, Tom Mc Athur (1992: 333-334) menguraikan kata propaganda berasal dari bahasa Neo Latin propagandus atau propagare yang berarti penyebaran. Kata ini pertama kali dipergunakan Paus Gregorius XV di italia pada tahun 1622 untuk menamai sebuah lembaga yang mengurusi kegiatan misionaris Gereja Katolik Roma,Congregatio de Propaganda Fide, komite tetap kardinal yang bertanggung jawab atas aktivitas misionaris katolik. Sejak itu, propaganda mulai banyak digunakkan untuk merujuk pada rencana sistematis dan gerakkan terorganisasi untuk menyebarkan suatu keyakinan, dogma, doktrin atau sistem tertentu.
Adapun beberapa definisi-definisi lain mengenai propaganda sebagai berikut :
1. Dalam Ensiklopedia Internasional dikatakan, propagandasuatu jenis komunikasi yang berusaha memengaruhi pandangan dan reaksi, tanpa mengindahkan tentang nilai benar atau tidak benarnya pesan yang disampaikan.
2. Barnays mengatakan, propaganda modern adalah suatu usaha yang bersifat konsisten dan terus-menerus untuk menciptakan atau membentuk peristiwa-peristiwaguna memengaruhi hubunga publik terhadap usaha atau kelompok.
3. Leonard W.Dobb mengatakan, propaganda adalah usaha sistematis yang dilakukan individu yang masing-masing berkepentingan untuk mengontrol sikap kelompok, individu lainnya dengan cara menggunakan sugesti dan sebagai akibatnya mengontrol kegiatan tersebut.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa propaganda adalah suatu bentuk komunikasi yang mengungkapkan kebenaran dengan menggunakan cara-cara yang mempersuasi untuk mempengaruhi khalayak atau massa sebagai targetnya. Propaganda juga dapat diatikan sebagai suatu kreatifitas dalam mempermainkan kata-kata tanpa mempertimbangkan benar atau salahnya dimana disampaikan secara sistematis dengan teknik yang terencana dan strategi yang matang dengan memanfaatkan alat komunikiasi dengan tujuan untuk mempengaruhi pendapat, sikap, dan perilaku masyarakat atau massa.

B. Perkembangan Kegiatan Kampanye di Indonesia
1. Kampanye politik di Pemilu Pertama Era Orde Lama
Pemilu pertama yang diselenggarakan bangsa Indonesia terjadi di era orde lama tahun 1955. Pemilu tersebut dibagi menjadi dua tahap yaitu :
Tahap pertama adalah Pemilu untuk memilih anggota DPR. Tahap ini diselenggarakan pada tanggal 29 September 1955, dan diikuti oleh 29 partai politik dan individu. Lalu, tahap kedua adalah pemilu untuk memilih anggota Konstituante. Tahap ini diselenggarakan pada tanggal 15 Desember 1955. Sementara itu, lima besar partai dalam pemilu ini adalah Partai Nasional Indonesia, Masyumi, Nahdlatul Ulama, Partai Komunis Indonesia, dan Partai Syarikat Islam Indonesia.
Walaupun mendapat kendala pemerintah tetap berkeinginan kuat untuk menyelenggarakan pemilu. Misalnya, dibentuknya UU No. 27 Tahun 1948 tentang Pemilu yang kemudian diubah dengan UU No. 12 Tahun 1949 tentang Pemilu. Dalam UU No. 12/1949 diamanatkan bahwa pemilihan umum yang akan dilakukan adalah bertingkat (tidak langsung), untuk menghindari distorsi akibat banyaknya warga negara yang buta huruf kala itu.
Urunan Dana Kampanye
Urunan dana kampanye ternyata sudah ada sejak Pemilu 1955 di era Orde Lama. Menurut Sejarawan Indonesia Anhar Gonggong, kala itu, dana kampanye didapatkan dari rakyat yang secara sukarela menyumbangkan uangnya untuk membantu kampanye partai yang didukung.
2. Kampanye politik di Era Orde Baru
Pemerintah berhasil melaksanakan enam kali pemilihan umum yakni pada tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Partai yang mengikuti pemilu pada orde baru ialah Partai Katolik, PSII, NU, Parmusi, Golkar, Parkindo, Murba, PNI, Perti, dan IPKI. Selama Orde Baru, Golkar selalu memperoleh mayoritas suara dan memenangkan pemilu.
Monopoli Kampanye Golkar
Seperti dikutip dari hariansejarah.id, Rabu, 15 Agustus 2018, Golkar sebagai partai baru dalam politik Indonesia menjadi partai yang didukung oleh pemerintah dan ABRI. Dalam kampanye pertamanya, Golkar memilih tema “Politik no, Pembangunan yes” sebagai representasi keinginan pemerintah. Golkar juga sering kali mengungkit-ungkit kegagalan dan kelemahan partai politik di masa lalu dengan tujuan melumpuhkan partai politik ketika berkampanye. Bahkan, kampanye Golkar juga diwarnai dengan paksaan. Seperti, sebagian besar pegawai negeri dan pamong desa dilarang berkampanye untuk partai pilihan mereka. Malahan, mereka diharuskan bergabung dan bekerja sama dengan Golkar dan memilih partai tersebut.Golkar juga menyampaikan kampanye kepada masyarakat bahwa "menentang Golkar berarti menentang pemerintah".
Kampanye PNI dan NU

Kampanye yang dilakukan oleh PNI menimbulkan ketegangan antara PNI dan pemerintah. Ketua Umum PNI Hadisubeno yang sebelumnya disangka tunduk pada pemerintah, ternyata melakukan kampanye yang mengundang kewaspadaan.
Dalam pidatonya, Hadisubeno bahkan dengan berani mengatakan, “Sepuluh Soeharto, sepuluh Nasution, dan segerobak penuh jenderal tidak akan dapat menyamai satu Soekarno". Walaupun sudah melakukan  kampanye, usaha Hadisubeno untuk ikut pemilu akhirnya gagal.
Sama halnya dengan partai PNI, partai parmusi juga gagal dalam berkampanye karena sepertinya parmusi tidak tahu cara untuk melakukan kampanye. Kemudian partai NU melakukan kampanye dengan penuh semangat dan tetap tunduk kepada pemerintah. NU mengeluarkan fatwa bahwa orang Islam wajib memberikan suara kepada partai-partai Islam. Dari total tiga partai besar hanya NU yang tidak menyerang pemerintah secara langsung.
3. Era Reformasi
Pada era reformasi teknologi semakin berkembang dimana munculnya banyak media sehingga menambah metode untuk melakukan kampanye. Salah satu yang dijadikan media untuk berkampanye yaitu media sosial seperti facebook, twitter, dan lain sebagainya.
Kampanye di media sosial sekarang ini dapat menggiring opini publik para penggunan media sosial. Alhasil, muncul peran baru sebagai buzzer. Salah satu peran buzzer partai politik atau pasangan calon pemimpin tertentu pastinya melakukan "gencatan gerilya" di jagat maya dengan tujuan tertentu. Media The Guardian pada 23 Juli 2018 pernah mengungkap soal peran buzzer dari mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

C. Program Kampanye
(Lampiran)
D. Referensi
http://staffnew.uny.ac.id/upload/198606242015042003/pendidikan/KAMPANYE_APA%20DAN%20UNTUK%20APA.pdf di unduh pada 27 April 2019 pukul 07.21 WITA
http://digilib.uinsby.ac.id/13843/5/Bab%202.pdf di unduh pada 27 April 2019 pukul 07.33 WITA
http://digilib.unila.ac.id/2202/12/BAB%20II.pdf di unduh pada 27 April pukul 07.49 WITA


Humaedi Suhada

0 Comments

Posting Komentar