Konsep Budaya Jawa dan Pengalaman Berinteraksi dengan Budaya Lain

Sharing Session

Unduh Artikel Konsep Budaya Jawa dan Pengalaman Berinteraksi dengan Budaya Lain - NesiaNet.docx

Konsep Budaya Jawa dan Pengalaman Berinteraksi dengan Budaya Lain
Humaedi Suhada (L1B016032)

1. Kajian Budaya Jawa
Kajian budaya Jawa berarti penyelidikan atau penelitian secara mendalam terhadap budaya yang merupakan kebiasaan dan selallu dilakukan oleh manusia atau masyarakat Jawa. Manusia dengan kebudayaan berusaha memahami lingkungannya. Dengan budaya manusia dapat menguasai, melihat, memahami, mengklasifikasikan gejala yang tampak sekaligus menentukan strategi terhadap lingkungannya.
2. Masyarakat Jawa
Penduduk Indonesia 60% berada di Jawa Madura yang sebagian besar didiami orang Jawa. Orang Jawa ialah orang yang berbahasa ibu bahasa Jawa. Orang Jawa terbagi menjadi dua kultural, yaitu kebudayaan pesisir dan kebudayaan pedalaman atau kejawen. Kebudayaan Jawa sendiri cukup heterogen. Namun semua orang Jawa berbudaya satu, mereka berpikiran dan berperasaan seperti nenek moyangnya di Jawa Tengah dengan kota-kota Surakarta dan Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan.

Orang Jawa dibedakan menkadi dua kelompok sosial ekonomi yaitu kaum priyayi dan wong cilik. Struktur sosial orang Jawa juga terbagi atas tiga dimensi sosial yaitu mikro (sosial lingkup keluarga), mezo (sosial lingkup sesama/lingkungan), dan makro (sosial kenegaraan). Sedangkan bentuk masyarakat Jawa terdiri dari tiga bentuk yaitu masyarakat kekeluargaan, masyarakat gotong royong, dan masyarakat berketuhanan. Mengenai pembagian warisan masyarakat jawa menggunakan aturan segendhong sepikul yang berarti 1:2 dan gana gini yang berarti suami istri sama/ hasil berdua.
3. Struktur Masyarakat Jawa
Masyarakat jawa memliki budaya, karakteristik, dan identitasnya secara jelas dan unik. Identitas budaya dijadikan sebagai ciri khas yang dimulai sejak jaman kerajaan. Akan tetapi, di jaman sekarang/modern saat sekarang identitas tersebut telah banyak berubah seiring dengan adanya pengaruh budaya luar, sehingga budaya jawa mengalami erosi. Maka muncul istilah “wong_jowo_ilang_jawane” (orang jawa telah kehilangan identitas jawanya), seperti kehilangan unggah-ungguh (saling hormat menghormati), tradisi budaya, penggunaan bahasa, dan sebagainya.
Orang jawa dibedakan menjadi dua kelompok social ekonomi yaitu:
Kaum Priyayi, yaitu terdiri dari priyayi rendah (pegawai rendah dan intelektual) dan priyayi tinggi (pejabat)
Wong cilik, yaitu para petani di pedesaan dan orang-orang yang berpendapatan rendah di kota-kota.
Orang jawa dibedakan menjadi dua kelompok sosial keagamaan yaitu:
Kaum santri, yaitu orang jawa yang hidupnya berusaha sesuai dengan ajaran agama islam (islam aktif dan taat)
Kaum abangan, yaitu terdiri orang jawa yang Bergama islam pasif sebagai pemilik tradisi budaya dan non islam, yaitu orang jawa yang telah berpindah dari agama islam ke agama lain.
Orang jawa dibedakan menjadi tiga kelompok secara antropologis:
Kaum priyayi, yaitu orang-orang jawa ningrat yang masih memiliki keturunan atau dari keluarga keratin.
Kaum santri, orang-orang jawa islam yang hidupnya lebih didominasi pengalaman agama islam.
Kaum abangan, yaitu orang jawa yang berasal dari kalangan bawah (bukan santri ataupun bukan priyayi).
Akan tetapi selang beberapa dasa warsa (di era pembangunan sekarang) ketiga kelompok orang jawa tersebut telah membaur dan bersifat saling mempengaruhi, sehingga menjadi: ada priyayi yang memiliki sifat abangan yang cenderung kasar, dahulu seorang abangan kini menjadi santri atau bahkan priyayi.
Manusia jawa dalam interaksinya dalam satu keluarga (lingkup mikro) setiap orang harus dapat membawa diri dan bersikap sesuai prinsip kekeluargaan, misalnya seorang anak harus dapat menghormati kedua orang tua “mbangun_miturut_bapa_biyung”. Orang jawa harus menghormati para leluhurnya “mikul_dhuwur_mendhem_jero” dan lain sebagainya.
Semuanya itu demi terciptanya memayu_hayuning_salira” (mempercantik perilaku diri). Manusia jawa dalam interaksinya dengan sesama (lingkup mezzo), maka setiap orang harus dapat hormat menghormati, bergaul sesuai dengan prinsip: gotong royong atau kekadangan. Seseorang harus dapat “ajur-ajer” dengan sesamanya, tidak boleh pilih kasih. Pergaulan dengan lingkungan tersebut termasuk didalamnya dengan lelembut (makhluk halus). Makhluk halus menurut kepercayaan manusia jawa diberi hormat dengan sesajen. Karena makhluk halus tersebut dapat mengganggu manusia, bahkan makhluk halus dapat dimintai pertolongan, seperti mencarikan kekayaan, mencari kesaktian, dan lain sebagainya.
Manusia jawa dalam interaksinya dengan lingkungan yang lebih besar atau disebut juga dengan Negara atau pemerintahan (lingkup makro) harus dapt membawa diri dalam bersikap.
4. Perasaan Orang Jawa
Perasaan Orang Jawa Perasaan orang Jawa (tradisional-asli) dapat dibedakan: aji, pakewuh, ajrih, lingsem, isin.
Aji adalah rasa hormat kepada orang yang lebih tinggi derajatnya, pangkatnya, martabatnya. Tidak cuma hormat, bahkan ada yang bercampur rasa kagum.
Pakewuh (basa krama-nya: pakewet) adalah perasaan malu ketika dia harus berhubungan, bergaul, bercampur, bertemu, apalagi minta tolong, kepada orang yang derajat dan pangkatnya lebih tinggi.
Ajrih adalah perasaan malu (bercampur takut) disebabkan karena dirinya merasa telah bersalah, atau telah melakukan sesuatu yang kurang baik, kepada seseorang.
Rasa senang (krama: remen) adalah perasanaan senang, enak, nyaman, khususnya dalam berkomunikasi dengan orang lain yang sederajat.
Tresna adalah rasa senang, cinta, simpati, saat bertemu, bergaul, dengan orang lain, yang biasanya telah akrab.
Geting adalah rasa benci. Biasanya benci disebabkan oleh sifat-sifat buruk seseorang, sehingga dia menjauhi orang tersebut.
Jadi jelas, budaya Jawa (bukan orang Jawa) memiliki budaya malu. Jika bertemu dengan orang yang belum dikenal, maka ada dua kemungkinan. Pertama: orang Jawa akan menghindar, negative thinking. Kedua: bersahabat, aktif, positive thinking. Pada umumnya orang Jawa suka membantu orang lain, sesuai ungkapan dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan. Kesimpulannya: tidak semua orang Jawa lamban, tergantung orangnya. Banyak orang Jawa yang berani bertindak tegas dan cepat (trampil-trengginas-tanggap-tanggon).
5. Bahasa dan Sastra
Bahasa Jawa adalah bahasa yang dipergunakan di mayoritas pulau Jawa. Bahasa Jawa merupakan bahasa yang  mengenal adanya tingkat tutur (speech levels) atau unggah-ungguhing basa. Ungguh-ungguh basa Jawa secara garis besar terbagi menjadi ragam ngoko dan krama. Ragam ngoko sendiri masih terbagi jadi ngoko lugu dan ngoko alus. Sedangkan ragam krama juga berbagi menjadi krama
lugu dan krama alus.
Upaya pembinaan unggah-ungguh bahasa Jawa di samping memerlukan dukungan masyarakat, usaha ini juga memerlukan dukungan kelembagaan yang terkait baik legislatif maupun lembaga eksekutif, lembaga pemerintah maupun lembaga non-pemerintah. Peristiwa penting dalam rangka upaya pembinaan unggah-ungguh bahasa Jawa ialah telah dicanagkannya “Dasa Warsa Kebudayaan Indonesia” (Inpres No. 4 Tahun 1989).
Penyebab semakin kritis, kerapuhan dan mundurnya pemakaian ungguah-ungguh bahasa Jawa dikarenakan beberapa sebab, diantaranya;
Sikap masyarakat Jawa terhadap unggah-ungguh bahasa Jawa itu sendiri.
Hadirnya situasi dwibahasa (penggunaan bahasa Jawa-Indonesia), bahkan tribahasa (bahasa Jawa-Indonesia-Inggris).
Kurang adanya keteladananpara tokoh masyarakat, pamong desa, rohaniawan, para orang tua, atau paro tokoh lain.
Ada berbagai macam kitab-kitab kasusteraan Jawa dari berbagai zaman, diantaranya:
Kitab-kitab Jawa kuno golongan tua dengan contoh Candrakirana, Ramayana, Syang Hyang Kamahayanikan, Brahmandapurana, Agastyaparwa, Utarakanda, Adiparwa, Sabhaparwa.
Kitab-kitab Jawa kuna yang bertembang kakawin dengan contoh Arjunawiwaha, Kresnayana, Sumanasantaka, Bhomakwaya, Bharatayudha, Haiwangsa.
Kitab-kitab Jawa kuna tergolong baru yang berbentuk kakawin dengan contoh Brahmandapurana, Kunjarakarna, Nagarakretagama, Arjunawijaja, Sutasoma atau Purusada-santa.
Kitab-kitab Jawa kuna tengahan yang berbentuk prosa dengan contoh Tantu Panggelaran, Calon Areng, Tantri Kamandaka.
Kitab-kitab syair bahasa Jawa tengahan yang berbentuk kakawin dengan contoh Dewaruci, Sudamala, Kidung Subrata.
Kitab-kitab zaman Islam seperti kitab Het Boek van Bonang (prosa), Suluk Sukarsa (puisi), Kodja-djadjahan (puisi), Suluk Wujil (puisi).
Kitab-kitab zaman Surakarta awal dengan contoh Arjuna Wiwaha (dikarang/disadur oleh Pakubuwanan III); Serat Rama, Bharatayuda, Panitisastra, Arjunasasra, Darmasunja (karangan Jasadipura I dan II berbentuk puisi); Wulangreh dan Wulang Sunu (karangan Sinuhun Pakubuwanan IV); Ardjunasasrabau(puisi), Sugriwa Subali, Partayadnya(Parta Krama), Sembadra Larung (disadur/dibangun Sindusastra); Bale Sigala-gala, Djagalabilawa(puisi), Semar Jantur(puisi) (disadur/dibangun Arya Kusumadilaga); Serat Centhini (karangan KGIA Anom / Sri Paduka PB V); Jayengbaya, Witaradya, Paramayoga(puisi), Jitapsara(puisi) ( karangan Ranggawarsita); Wedhatama, Tripama, Nayakarwa, Serat Piwulang Wani-warni (Darmawarsita, Sriyatna) (karangan Mangkunegaran IV).
6. Kesenian Tradisional
Kesenian tradisional atau teater rakyat Jawa, seni rakyat dapat berupa pertunjukan wayang purwa atau wayang kulit, wayang orang, ketoprak, suap, tayub, ludruk, tarian kuda kepang, dan sebagainya. Kesenian merupakan salah satu penyangga kebudayaan, dan berkembang menurut kondisi dari kebudayaan itu. Kesenian tradisional sendiri terbagi atas kesenian tradisional keraton maupun tradisional kerakyatan. Ciri-ciri dari kesenian tradisional merupakan suatu bagian satu “cosmos” dan seninya bersifat fungsional. Fungsi seni tradisi lebih menenkankan pada persoalan kehidupan masyarakat dimana ia ada.
Salah satu bentuk kesenian tradisional ialah pementasan wayang purwa. Wayang purwa dikalangan masyarakat awam lebih dikenal dengan nama wayang kulit. Dalam bahasa krama (halus) wayang purwa dinamakan ringgit purwa atau ringgit wacucal. Wayang purwa sendiri berarti wayang di zaman yang paling kuna, yang paling tua. Wayang purwa ini berasal dari Jawa asli, bukannya meniru atau mencontoh dari Hindu.
Untuk melaksanakan suatu pertunjukan wayang diperlukan perlengkapan-perlengkapan. Perlengkapan itu seperti kelir, blencong, kothak, kepyak, dan dhalang. Pembuatan wayang oleh orang Jawa ditujukan untuk keselamatan mereka dari malapetaka yang diramalkan akan datang. Harapan itulah yang mendorong orang menghasilkan pembuatan bayangan, karen orang dapat membayangkan roh-roh orang yang telah meninggal. Waktu pertunjukan wayang biasanya dilakukan pada waktu malam hari, karena orang beranggapan bahwa waktu malam hari itulah saat roh-roh berkelana dan mengembara. Dalam pertunjukan wayang dikenal juga beberapa simbol, diantaranya simbol tujuh gendhing patalon, lima kali pukulan kothak, gunungan berhanti tiga kali, dan simbol pertunjukan semalam suntuk (pathet nem, pathet sanga, pathet manyura, joged golek).
7. Upacara Daur Hidup Masyarakat Jawa
Perkawinan merupakan sebuah fase peralihan kehidupan manusia dari masa remaja ke masa berkeluarga. Bagi masyarakat Jawa, perkawinan diyakini sebagai sesuatu yang sakral. Dalam budaya Jawa ada beberapa bentuk perkawinan simbolis diantaranya kawin gantung, kawin keris, kawin di depan peti mati dan sebagainya. Namun ada juga perkawinan dianggap terlarang apabila perkawinan itu antara misanan, kakek/nenek dengan cucunya, pancer wali, tumbak-tumbaka, dan masih banyak yang lainnya. Ada juga pawiwahan panganten adat Jawi yang terdiri dari ancasipun tiyang palakrama dan lampah-lampahing pawiwahan.
Upacara kelahiran (babaran) pada masyarakat tradisional biasanya dilakukan oleh dukun bayi. Sedangkan untuk masyarakat kota dilakukan oleh seorang dokter. Berikutnya diadakan upacara pemberian nama sesuai dengan perimbangan orang tuanya. Sebelum kelahiran diadakan syukuran orang hamil yang diadakan bertahap setiap usia kandungan. Setelah kelahiran bayi diadakanlah sebuah kebiasaan atau tradisi setelah kelahiran seperti pemotongan usus, menanam ari-ari, selamatan brokohan (berkah), puput puser (puputan), selamatan sepasaran (5 hari), selamatan selapan (35 hari), dan selamatan tedhak siti (tedhak siten).
Dalam masyarakat Jawa ada pula upacara khusus bagi kematian seseorang. Upacara ini dalam bentuk perawatan jenazah dalam bentuk mensucikan / memandikan jenazah, menata dan merapikan jenazah, mengadakan upacara do’a, dan terakhir upacara pemakaman. Setelah pemakaman diadakan selamatan orang meninggal seperti selamatan surtanah, nelung dina, mitung dina, matang puluh dina, nyatus dina, nyewu dina, dan kol.
8. Adat Istiadat Jawa
Upacara Sekaten merupakan budaya tradisi peninggalan nenek moyang yang hinnga sekarang masih tetap danterus dilestarikan. Upacara ini dilaksanakan dalam bentuk sesaji atau selamatan. Asal mula sekatin ini merupakan nama dari gamelan pelengkap dari gamelan Kyai Sekar Delima. Setelah itu gamelan dibagi menjadi dua perangkat, dinamakan Kyai Sekati dan Nyai Sekati. Dalam perayaan sekaten selalu menggunakan gamelan, gamelan itu berwujud Bonang sapangkon, Demang dua pangkon, Bedhug satu, Gong sarakit. Makna Sekaten dalam bahasa Jawa Baru, sekaten berasal dari kata sekati, setimbang ‘seimbang’.
Pranata mangsa adalah pengaturan waktu, yaitu kalender Jawa asli, sebelum mendapat pengaruh Hindu. Ada dua belas mangsa yang ada di Jawa, yaitu Kasa (Kartika), Karo (Pusa), Katelu / Katiga (Manggasri), Kapat (Sitra), Kalima (Manggakala), Kanem (Naya), Kapitu (Palguna), Kawolu (Wisaka), Kasanga (Jita), Kasepuluh / Kadasa (Srawana), Kadhesta/Kasawelas (Padrawana), dan Kasadha / Karolas (Asuji). Pranata mangsa masih dibagi lagi dalam empat musim berdasar emapt unsur kosmis-jagad, yaitu;
Katiga, - banyak angin – pengaruh unsur Maruta (angin)
Labuh, - banyak kobaran/penyakit – pengaruh unsur Agni/api
Rendhang, - banyak hujan – pengaruh  unsur Tirta (air)
Mareng, - banyak rejeki dari bumu – pengaruh unsur Bantala (bumi)
Sejak zaman dahulu masyarakat telah terbiasa mengeti  waktu ‘memperingati waktu’ suatu kejadian yang penting. Sengkalan ialah sebuah tanda peringatan dengan kata-kata atau gambar yang menunjukkan angkat tahun dati suatu peristiwa. Ada berbagai macam jenis sengkalan menurut beberapa faktor, yaitu;
Menurut perhitungan yang digunakan
o Candra sengkalan
o Surya sengkalan
Menurut wujudnya
o Sengkalan lamba
o Sengkalan memet
9. Batik dan Keris
Batik pada mulanya merupakan suatu ungakapan dari rasa haru, terpesona, dan rasa keindahan, maka sering dinamakan kesenian yaitu “Seni Batik”. Membatik dari kata dasar “batik”, dan kata tersebut berasal dari akar kata (wod) “tik”, artimya titik. Karena hakikatnya batik berarti betitik, membatik berarti bertitik. Batik mulai berkembang di jawa, terutama di daerah Sala (Surakarta) dan Yogyakarta. Motif merupakan corak atau pola. Setiap batik selalu diberi nama yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia Indonesia dan cita-citanya. Sumber inspirasi membuat batik ada berbagai macam, yaitu:
Falsafah atau pandangan hidup
Jenis atau motif yang mengandung falsafah dan pandangan hidup masyarakat, bangsa dan negara yang berkembang ditengah-tengah masyarakat, yaitu motif batik Sidaluhur, Sidamukti, Truntum, Jaya Kirana, Jentik Manis.
Burung atau jenis unggas
Burung sering menjadi inspirasi pembuatan motif batik, karena burung melambangkan kebebasan jiwa yang tidak mau dijajah, lambang keperkasaan dan kekuatan. Ada berbagai macam motifnya, yaitu motif batik  Gurda (Garuda), motif batik Gurda Sisik, motif batik Iwak Langen ‘Ikan Berenang’, motif batik Keyongan.
Sumber ilham alam semesta
Dalam penciptaan tersebut desainer motif batik benar-benar sangat dekat dan akrab dengan lingkungan. Sebagai contoh motif atik ini ialah motif batik Pelangi,motif batik Ima-ima Thatit dan Thatit Samodra, motif batik Tirta Teja, motif batik udan riris.
Sumber ilham motif batik pepohonan/tetumbuhan
Kekayaan sumber alam sangat mengilhami para seniman dalam berkarya, termasuk seniman batik. Contohnya ialah motif batik Kembang Kenikir dan Kembang Pepe, Kembang Semak dan Kepet Tapak Dara.
Sumber ilham motif batik kulit jagung
Kulit jagung mengandung makna yang amat dalam ketika manusia menghayati salah satu kenikmatan. Dengan macam motif batik ialah Kawung Kembang Cengkeh, Kawung Kembang, Kawung Kembang Mlathi, Kawung Picis Limaran.
Sumber ilham motif batik batu karang
Batu karang melambangkan kekerasan dan keteguhan setiap orang yang memiliki kepribadian teguh. Dengan contoh motif batik yaitu Parang, Parang Peni, Parang Sarpa, Parang Seling.
Sumber ilham motif batik lingkungan hidup
Hal yang sering menjadi ilham ialah lingkungan hidup yang sering dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Contoh dari motif batik ini ialah Ayam Amggrem, Celengan, Ondhe-ondhe, Keluarga.
Keris merupakan salah satu karya nenek moyang bangsa Indonesia dalam khasanah budaya tradisional. Di Jawa keris disebut juga tosan aji atau wesi aji, artinya besi yang bernilai atau dimuliakan. Menurut Egerton dari Inggis pencipta keris Jawa adalah Panji Inu Kertapati, Raja Jenggala abad ke-14. Sedangkan menurut buku Pratelan Dhapur Dhuwung saha Waos karangan Ranggawarsita yang telah dikoreksi oleh Jayasukadga yang hidup pada zaman PB X mengatakan pembuat pertama keris ialah Empu Ramadi atas titah Sri Paduka Mahadewa Buda. Namun pernyataan tersebut belum dapat dianut sebagai kebenaran historis.
Menurut Pangeran Hadiwidjijo dari kraton Surakarta Hadiningrat, keris berasal dari bahasa Jawa Kuna yang berarti menghunus. Keris hampir selalu berkaitan dengan berbagai nilai falsafah. Keris merupakan lambang produk kosmis antara bahan yang berasal dari bumi sebagai ibu atau unsur maternal dan bahan yang berasal dari angkasa sebagai ayah atau unsur paternal. Bagi orang Jawa keris juga dianggap hasil proses cipta, rasa, karsa, dan karya. Selain itu keris juga memberi tuah, seperti keris dapat memberi berkah dan membawa angsar. Sedangkan menurut paham kebatinan, keris dapat memiliki yoni karena hasil usaha manusia yang membuatnya atau pemiliknya.
10. Aliran Kepercayaan dan Kebatinan
Berbagai macam aliran dalam kenyataannya hidup dalam  negara Indonesia. Salah satu dari berbagai aliran itu ialah aliran atau ajaran Sumarah. Ajaran ini bertujuan untuk mencapai kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat. Penganut ajaran ini beriman kepada hukum karma phala. Mereka beriman bahwa perbuatan yang baik (cubha karma) mendatangkan hasil yang baik, sedangkan perbuatan yang buruk (achuba karma) membawa hasil yang jelek, yang akan diterima, atau diderita oleh si pelaku atau keturunannya atau seseorang, baik dalam kehidupan sekarang maupun nanti.
Ajaran Sumarah percaya bahwa mereka harus tunduk kepada semua peraturan pemerintah. Penganutnya beriman kepada kelahiran kembali secara berulang yang berlaku terhadap manusia yang disebut reikarnasi. Mereka melakukan ritual sujud yang menurut mereka dapat diklasifikasikan sebagai ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan sistem pamong tanpa pamrih. Sujud menurut ajaran Sumarah ialah persekutuan dengan Allah. Maka tujuan dari sujud itu terjadinya bersekutu antara yang melakukan sujud dengan Allah. Pengikut Sumarah percaya bahwa jiwa manusia adalah peletikan daripada Allah. Bahwa roh manusia berasal dari zat Allah. Bagi mereka, alam manusia terbagi menjadi tiga, yaitu:
Dunia yang tampak
Alam gaib di dalam sanubari
Alam gaib yang lebih luas
Menurut kepercayaan pengikut Sumarah, bahwa bila telah tercapai taraf yang lebih tinggi, maka terjadilah persekutuan hamba dengan Tuhan. Hasilnya ialah hamba tidak terkalahkan oleh siapapun, bagaimanapun musuh kuasa, tak ada senjata yang sanggup melukainya.
11. Kebudayaan Madura (Pengalaman Berinteraksi)
Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah utara Jawa Timur. Pulau Madura ini besarnya kurang lebih 5.250 km2 (lebih kecil dari pulau Bali), dengan penduduk sebanyak 4 juta jiwa. Madura dibagi menjadi 4 kabupaten, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.
Bangkalan berada di ujung paling barat pulau Madura dan saat ini telah dibangun jembatan terpanjang di Indonesia, jembatan Suramadu (Surabaya-Madura), merupakan salah satu kawasan perkembangan Surabaya, serta tercakup dalam Gerbangkertosusila. Dan uniknya Sumenep yang merupakan salah satu kabupaten di Madura selain terdiri dari wilayah daratan, terdiri pula dari kepulauan yang berjumlah 126 pulau.
Meski kebanyakan wilayah yang termasuk kawasan Madura adalah kepulauan, namun Madura tetap memiliki kebudayaan tersendiri. Budaya Madura berbeda dengan budaya Jawa. Kebudayaan Madura yang bersumber dari kraton, sedikit banyak terpengaruh oleh kebudayaan kraton Jawa. Baik dalam bidang seni, tari, macopat, bahasa, ataupun gending-gending gamelan. Namun hal ini bukan berarti Madura tidak memiliki akar budaya sendiri.
Perbedaan yang cukup mencolok dapat terlihat dalam kehidupan keseharian, sifat orang Madura yang lebih egaliter dan terbuka, berbeda dengan sifat orang Jawa yang mempunyai sifat "ewuh pakewuh". Dalam hal mencari rezeki pun, orang-orang Madura sejak masa lalu sudah berani merantau ke luar pulau. Hal ini terbukti dengan banyaknya orang Madura yang tersebar hampir di seluruh penjuru Negeri bahkan sampai-sampai di luar negeri pun ada.
Masyarakat Madura dikenal juga memiliki budaya yang khas, unik, stereotipikal, dan stigmatik. Istilah khas disini menunjukkan bahwa entitas etnik Madura memiliki kekhususan-kultural yang tidak serupa dengan etnografi komunitas etnik lain. Kekhususan-kultural ini antara lain tampak pada ketaatan, ketundukan, dan kepasrahan mereka kepada empat figur utama dalam kehidupan yaitu Buppa, Babu, Guruh, ban Ratoh (Ayah, Ibu, Guru dan Pemimpin Pemerintahan).
Selain itu pula Madura masih memiliki beberapa nilai budaya yang perlu untuk dilestarikan dan dikembangkan. Diantaranya adalah ungkapan-ungkapan seperti: "Manossa coma dharma", ungkapan ini menunjukkan keyakinan akan kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa. "Abhantal ombha' asapo' angen, abhantal syahadad asapo' iman", menunjukkan akan berjalin kelindannya budaya Madura dengan nilai-nilai Islam. " Bango' jhuba'a e ada' etembang jhuba' a e budi ", lebih baik jelek di depan daripada jelek di belakang. "Asel ta' adhina asal", mengingatkan kita untuk tidak lupa diri ketika menjadi orang yang sukses dan selalu ingat akan asal mula keberadaan diri. "Lakonna lakone, kennengngana kennengnge" sama halnya dengan ungkapan "The right man in the right place". "Pae' jha' dhuli palowa, manes jha' dhuli kalodu", nasehat agar kita tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya berdasarkan fenomena. Kita harus mendalami akar permasalahan, baru diadakan analisis untuk kemudian menetapkan kebijakan. "Karkar colpe'", bisa dikembangkan untuk menumbuhkan sikap bekerja keras dan cerdas, apabila kita ingin menuai hasil yang ingin dinikmati.
Keunikan yang lain dari budaya Madura adalah pada dasarnya dibentuk dan dipengaruhi oleh kondisi geografis dan topografis masyarakat Madura yang kebanyakan hidup di daerah pesisir, sehingga mayoritas penduduk Madura memiliki mata pencaharian sebagai nelayan.
12. Referensi
Sutardjo, Imam. 2008. Kajian Budaya Jawa. Fakultas Sastra dan Seni Rupa Unversitas Sebelas Maret: Surakarta.


Humaedi Suhada

0 Comments

Posting Komentar