Kampanye Pemilihan Kepala Daerah dan Kesadaran Hak Politik Masyarakat

Sharing Session

Unduh Makalah Kampanye Pemilihan Kepala Daerah dan Kesadaran Hak Politik Masyarakat - NesiaNet.docx

KAMPANYE PEMILIHAN KEPALA DAERAH DAN KESADARAN HAK POLITIK MASYARAKAT
(Perencanaan, Pelaksanaan, Evaluasi, dan Contoh Kasus Kampanye Politik Serta Tinjauan Tentang Kesadaran Hak Politik Masyarakat)
HALAMAN JUDUL

Kelompok 7
Baiq Puti Sika Anggini L1B016016
Elvina Virgianti L1B016025
Humaedi Suhada L1B016032
Intan Kuswari L1B016036
Lalu Hilman Maulana L1B015047
Lola Agustina Pratiwi L1B016050
M. Zulham Mardiansyah L1B015046

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS MATARAM
NTB

2019 
KATA PENGANTAR
Sembari mengucap puji syukur kepada Tuhan, kami mengantarkan makalah ini kepada pembaca dengan harapan semoga menjadi manfaat bagi kami kelompok 7 mata kuliah Kampanye dan Propaganda yaitu terpenuhinya penugasan dan menghasilkan nilai yang memuaskan dan juga manfaat bagi semua pembaca untuk menambah ilmu pengetahuan dan rasa ingin tahu untuk menggali lebih dalam lagi.
Terimakasih untuk semua yang terlibat dalam pembuatan makalah, dan secara khusus kami berterimakasih kepada dosen pengampu mata kuliah Kampanye dan Propaganda, Novita Maulida S.Sos.,M.Med.Kom.,


Mataram, 16 Juni 2019


Kelompok 7 
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Rumusan Masalah 1
1.3. Tujuan dan Manfaat 1
BAB II PEMBAHASAN 2
2.1. Kampanye 2
2.1.1. Perencanaan Kampanye 2
2.1.2. Pelaksanaan Kampanye 6
2.1.3. Evaluasi Kampanye 8
2.2. Hak Politik 9
2.3. Contoh Kasus Hubungan antara Kesadaran Hak Politik Masyarakat dengan Pencapaian Kampanye Politik Pemilihan Kepala Daerah 9
2.3.1. Contoh Kasus I 9
BAB III PENUTUP 10
DAFTAR PUSTAKA 11

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kampanye adalah hal yang sangat familiar di negara yang menerapkan sistem demokrasi, kampanye adalah salah satu sarana politik, dan politik adalah cara-cara untuk memperoleh kekuasaan, maka kampanye merupakan salah satu sarana untuk memperoleh kepercayaan masyarakat untuk berkuasa baik di lembaga legislatif maupun di eksekutif.

Sebagai akademisi, mahasiswa yang mengkaji ilmu politik menjadi sangat krusial untuk memahami kampanye dan propaganda, terutama kampanye politik dengan semua aspeknya mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi serta memahami dan mampu menganalisa kasus-kasus atau fenomena yang berkaitan dengan kampanye politik yang bisa kita saksikan.
Kampanye menargetkan dan mengarahkan partisipasi politik masyarakat untuk mengerucut ke suatu pihak atau aktor politik, kampanye bertujuan untuk mengarahkan pilihan dan tindakan masyarakat dilihat dari sudut pandang masing-masing kubu politik, namun dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, yaitu dari sudut pandang sistem demokrasi, untuk bisa melakukan proses pengarahan pilihan atau mempengaruhi masyarakat, maka semua aktor politik harus melakukan edukasi poltik terlebih dahulu untuk meningkatkan partisipasi politik masyarakat. Maka dalam makalah ini, semua poin di atas akan dibahas dan dirangkai dengan sistematika menjawab rumusan masalah di bawah.
1.2. Rumusan Masalah
A. Apakah yang dimaksud dengan kampanye dan kampanye pilkada serta bagaimana dan apa sajakah unsur-unsur dari kegiatan kampanye tersebut?
B. Apakah yang dimaksud dengan hak politik masyarakat dan bagaimanakah kaitan antara kesadaran masyarakat akan hak politiknya dengan kampanye politik?
1.3. Tujuan dan Manfaat
A. Memahami konsep kampanye, kampanye pilkada serta unsur-unsur untuk berjalannya suatu program kampanye.
B. Memahami tentang kesadaran hak politik masyarakat dan kaitannya dengan kampanye politik. 
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Kampanye
Dalam skripsi Eki Ferisandi tahun 2010, kampanye adalah kegiatan yang bertujuan untuk meyakinkan calon pemilih dengan penyampaian visi misi, program, dan juga prospek jika terpilih melalui beberapa bentuk kegiatan yang secara umum ialah pengumpulan massa. Kampanye diselenggarakan oleh tim hasil bentukan partai politik dan/ koalisi partai politik pengusung. Kampanye dapat berbentuk pertemuan terbatas, tatap muka dan dialog, kampanye melalui media cetak, digital, konvensional atau media baru, pemasangan alat peraga kampanye, debat terbuka, dan kegiatan lain yang tidak melanggar undang-undang pemilu.
Lama waktu kampanye ialah 119 hari dan terjadi penambahan 10 hari di Pilkada 2018 lalu lalu memasuki masa tenang dimana tidak boleh ada aktivitas kampanye lagi kemudian memasuki masa pemilihan. Ada beberapa larangan dalam kampanye diantaranya sebagai berikut:
a. Mempersoalkan dasar negara;
b. Menghina seseorang, lawan politik, dan menyinggung SARA;
c. Menciptakan kegaduhan atau adu domba;
d. Menggunakan ancaman dan kekerasan;
e. Mengganggu ketertiban umum;
f. Menganjurkan makar;
g. Merusak alat peraga kampanye lawan;
h. Menggunakan fasilitas negara;
i. Menggunakan fasilitas ibadah dan fasilitas pendidikan.
2.1.1. Perencanaan Kampanye
a. Riset dan Analisis Situasi
Riset digunakan untuk mengumpulkan data untuk menjadi bahan analisis, analisis adalah kegiatan menggunakan data yang terkumpul untuk menentukan dan membuat rencana. Analisis situasi adalah kegiatan menganilisis lingkungan dan semua faktor kemungkinan yang akan dihadapi kedepannya saat kampanye dijalankan. Beberapa instrument bantuan untuk mengalisis situasi diantaranya ialah analisis PEST dan analisis SWOT.
Analisis PEST digunakan untuk menganalisis keadaan di luar kubu (lingkungan eksternal). PEST membagi lingkungan eksternal menjadi Politik, Ekonomi, Sosial, dan Teknologi. Menurut Gregory (2004:41) dalam Anonim, 2012 pertanyaan-pertanyaan dasar yang harusnya terjawab menggunakan analisis PEST diantaranya ialah apa sajakah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jalannya kampanye? Bagaimana skala prioritas dari faktor-faktor tersebut? Dan lain sebagainya.
Analisis SWOT mengandung empat elemen yaitu Strenght (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunities (peluang), dan Threats (tantangan). Kekuatan dan peluang merupakan faktor-faktor positif yang mendukung terlaksananya program kampanye, dan kelemahan serta tantangan menjadi hambatan yang harus hadapi dan antisipasi. Menurut Gregory (2004:46) dalam Anonim, 2012 elemen kekuatan dan peluang bersifat inernal dan dua sisanya bersifat eksternal yang juga bisa didapat dari analisis PEST.
b. Menetapkan Tujuan
Sangat penting untuk menetapkan tujuan yang realistis, menurut Gregory (204:79) dalam Anonim , 2012 ada delapan hal penting yang harus dipertimbangkan ketika merumuskan tujuan, yaitu:
1. Sejalan dengan tujuan organisasi,
2. Tepat dan spesifik,
3. Realistis,
4. Pengukuran, riset, dan percobaan yang cermat,
5. Efektif (biaya),
6. Efisien (waktu), dan
7. Bekerja sesuai skala prioritas.
c. Mengenali Publik
Menurut James Grunig (1984) publik ada empat jenis, diantaranya:
1. Nonpublik, yaitu kelompok yang tidak terpengaruh maupun mempengaruhi organisasi.
2. Publik yang tersembunyi (latent public), yaitu kelompok yang dipengaruhi organisasi secara tidak langsung/tidak sadar.
3. Publik yang sadar (aware public), adalah kelompok yang menyadari pengaruh oleh organisasi tapi tidak berusaha mempengaruhi dan ikut serta dalam kegaitan organisasi (dalam hal ini tidak ikut mendukung secara terbuka, namun sadar kalau dukungannya diincar dan akan berpengaruh).
4. Publik yang aktif, adalah kelompok yang berpartisipasi dalam agenda (dalam hal ini kampanye) suatu organisasi (dalam hal ini parpol atau koalisi parpol).
Publik yang aktif dikelompokkan kembali menjadi all-issue public yaitu publik yang aktif terhadap semua masalah yang mempengaruhi organisasi, biasa merupakan anggota parpol atau koalisi parpol dan anggota ormas yang memiliki kedekatan dan kesamaan visi misi, kemudian single-issue public yang hanya aktif pada sebagian urusan dalam organisasi, merupakan anggota dari sayap organisasi atau orang-orang yang menerima manfaat dari suatu program dari organisasi (dalam hal ini parpol) dan hot-issue public yaitu kumpulan orang yang memiliki jabatan dan memiliki pengaruh besar terhadap jalannya organisasi
Pemilihan publik mana yang akan menjadi sasaran bergantung pada tujuan kampanye. Arens dalam Venus (2007:15) dalam Anonim, 2012 mengatakan bahwa identifikasi dan segmentasi sasaran kampanye dilaksanakan dengan melakukan pemilahan atau segmentasi terhadap kondisi geografis, demografis, sosial, dan psikografis.
d. Pesan
Gregory (2004:95) dalam Anonim, 2012 menjelaskan empat langkah untuk menentukan pesan, yaitu : Langkah pertama adalah menggunakan persepsi yang sudah ada. Langkah kedua adalah menjelaskan pergeseran yang dapat dilakukan terhadap persepsi tersebut. Langkah ketiga adalah mengidentifikasi unsur-unsur persuasi. Cara terbaik adalah melakukannya berdasarkan fakta. Langkah keempat adalah memastikan bahwa pesan tersebut dapat dipercaya dan dapat disampaikan melalui Public Relations.
e. Strategi
Strategi adalah pendekatan keseluruhan untuk suatu program atau kampanye. Strategi adalah faktor pengkoordinasi, prinsip yang menjadi penuntun, ide utama dan pemikiran dibalik program taktis. (Venus 2007:152 dalam Anonim, 2012)
f. Taktik
Berbicara taktik pelaksanaan suatu program kampanye yang harus berkaitan erat dengan program dari strategi utama, tujuan kampanye, ketika akan mengembangkan taktik pelaksanaan kampanye tersebut tidak terlepas dari faktor-faktor kekuatan, kreativitas atau kemampuan tim pelaksana, pengembangan program hingga pencapaian tujuan terukur, seperti yang diungkapkan Ruslan (2007:102 dalam Anonim, 2012) sebagai berikut :
1. Appropriateness, adanya kecocokan secara aktual dengan teknik-teknik taktik pelaksanaan, pencapaian target khalayak publik, hasil-hasil yang dicapai dalam melaksanakan pesan-pesan kampanye dan termasuk kecocokan dengan teknik-teknik Public Relations serta media komunikasi yang dipergunakan.
2. Deliverability, apakah anda mampu melaksanakan teknik-teknik berkampanye secara sukses sesuai dengan target? berapa besar alokasi dana yang diperlukan? Bagaimana dengan jadwal waktu pelaksanaan kampanye tersebut apakah sudah tepat? Termasuk memiliki tim ahli dan pendukungnya dalam taktik pelaksanaan secara tepat?.
g. Skala Waktu
Ada dua hal yang pasti dalam kehidupan praktisi Public Relations. Pertama, tidak pernah ada waktu yang cukup untuk melakukan semua pekerjaan yang harus dilakukan, tugas dan tanggung jawab yang ada lebih besar daripada waktu yang tersedia. Kedua adalah bahwa tugas-tugas Public Relations seriingkali melibatkan orang lain dan memerlukan koordinasi dari beberapa unsur.
Ada dua faktor utama yang saling berkaitan yang harus diamati ketika mempertimbangkan skala waktu. Pertama, tenggat waktu (deadline) harus di identifikasi sehingga tugas-tugas yang dihubungkan dengn suatu proyek dapat diselesaikan tepat waktu. Kedua adalah sumber daya yang tepat perlu dialokasikan sehingga tugas-tugas yang ada dapat diselesaikan. (Gregory, 2004:124 dalam Anonim, 2012)
h. Sumber Daya
Menurut Ruslan (2007:104 dalam Anonim, 2012) terdapat tiga bentuk sumber daya utama yang berkaitan dengan pelaksanaan program kampanye Public Relations. Pertama sumber daya manusia (SDM) yang terlibat langsung dalam kegiatan kampanye berupa tenaga profesional, dan ahli hingga terampil, staf pendukung atau tenaga lapangan. Kedua, sumber biaya operasional untuk menunjang kegiatan kampanye yang dikelola secara efisien dalam pembiayaan pelaksanaan operasional (implementation fee), consultant or professional fee,space of advertising cost, dan equipment fee (biaya penyewaan perlatan penunjang, publikasi, transportasi, sound system dan lighting system dan sebagainya). Ketiga adalah sumber perlengkapan transportasi, dukungan perlatan teknis, pemanfaatan media komunikasi dan tim kerja lain dan sebagainya.
2.1.2. Pelaksanaan Kampanye
Menurut Venus (2007:199 dalam Anonim, 2012) pelaksanaan kampanye adalah “penerapan dari konstruksi ranncangan program yang telah ditetapkan sebelumnya”. Beberapa hal yang harus dilakukan dalam tahap pelaksanaan meliputi : realisasi unsur-unsur kampanye, menguji coba rencana kampanye, pemantauan pelaksanaan, dan pembuatan laporan kemajuan.
a. Realisasi Unsur-unsur Pokok Kampanye
1. Perekrutan dan pelatihan personel kampanye
Kegiatan kampanye merupakan kerja tim. Dengan demikian banyak personel (juga lembaga) yang akan terlibat didalamnya. Penentuan siapa saja yang akan terlibat sebagai pelaksana kampanye (campaign organizer) merupakan langkah awal dalam melaksanakan kampanye. Orang-orang yang akan menjadi personel kampanye harus diseleksi dengan teliti dengan memperhatikan aspek motivasi, komitmen, kemampuan bekerjasama, dan pengalaman yang bersangkutan dalam kerja sejenis.
2. Mengonstruksi pesan
Pada prinsipnya desain pesan kampanye harus sejalan dengan karakteristik khalayak sasaran, saluran yang digunakan, dan efek kampanye yang diharapkan. Pesan kampanye memiliki berbagai dimensi yang meliputi pesan verbal, nonverbal, dan visual. Namun apapun dimensinya, secara umum konstruksi pesan kammpanye harus didasarkan pada pertimbangan kesederhanaan (simplicity), kedekatan (familiarity) dengan situasi khalayak, kejelasan (clarity), keringkasan (conciesness). Kebaruan (novelty), konsistensi, kesopanan (courtessy) dan kesesuaian dengan objek kammpanye.
3. Menyeleksi penyampai pesan kampanye
Pelaksanaan kampanye juga menghendaki pelaksana kampanye berhadapan dengan pemilihan individu yang secara spesifik bertindak sebagai pelaku (campaign actor) yang menyampaikan pesan kampanye. Keputusan untuk menentukan siapa pelaku atau penyampai pesan kampanye ini menjai sangat penting karena merekalah aktor yang akan berhadapan langsung dengan publik.
4. Menyeleksi saluran kampanye
Menyeleksi media mana yang akan digunakan sebagai saluran kampanye harus dilakukan dengan penuh pertimbangan. Beberapa faktor pokok yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media kampanye diantaranya : jangkauan media, tipe dan ukuran besarnya khalayak, biaya, waktu, dan tujuan serta objek kampanye. Di samping itu faktor lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah karakteristik khalayak, baik secara demografis, psikografis, maupun geografis. Pola penggunaan media khalayak (media habit) juga harus diperhitungkan untuk memastikan media apa yang biasanya digunakan khalayak.
b. Uji Coba Rencana Kampanye
Uji coba terhadap suatu rancangan dilakukan untuk menyusun strategi (pesan, media, dan penyampai pesan) yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Lewat uji coba rencana kampanye juga kita akan memperoleh gambaran tentang respons awal sebagian khalayak sasaran terhadap pesan-pesan kampanye. Respons ini pada gilirannya akan digunakan sebagai pembanding ketika melakukan evaluasi proses dan akhir kampanye.
c. Pemantauan Kampanye
Sebagai sebuah kegiatan yang terprogram dan direncanakan dengan baik, maka segala tindakan dalam kampanye harus dipantau agar tidak keluar dari arah yang ditetapkan. Untuk itu harus dipahami bahwa tindakan kampanye bukanlah tindakan yang kaku dan parsial, tetapi bersifat adaptif, antisipatif, integratif dan berorientasi pada pemecahan masalah.
1. Adaptif. Tindakan kampanye bersifat adaptif artinya ia terbuka terhadap masukan-masukan baru atau bukti-bukti baru yang ditemukan di lapangan.
2. Anitisipatif. Tindakan kampanye bersifat antisipatif artinya kegiatan kampanye harus memperhitungkan berbagai kemungkinan yang akan muncul di lapangan saat kampanye dilakukan.
3. Orientasi pemecahan masalah. Tindakan kampanye bersifat problem solving oriented artinya segala bentuk tindakan dalam proses kampanye diarahkan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
4. Integratif dan koordinatif, kegiatan kampanye bukanlah tindakan one man show melainkan kegiatan yang didasarkan pada kerja tim. Keberhasilan kampanye ditentukan oleh bagaimana pelaksana kampanye bertindak secara integratif dan koordinatif. Koordinasi ini tidak hanya dilakukan dengan sesama pelaksana kampanye melainkan juga dengan berbagai pihak terkait yang akan turut mempengaruhi kelancaran dan keberhasilan pencapaian tujuan kampanye.
d. Laporan Kemajuan
Unsur terakhir dari proses pelaksanaan kampanye adalah penjadwalan laporan kemajuan atau progress report. Laporan kemajuan merupakan dokumen yang sangat penting, bukan hanya bagi manajer tapi juga pelaksana kampanye secara keseluruhan. Dalam laporan kemajuan umumnya dimuat berbagai data dan fakta tentang berbagai hal yang telah dilakukan selama masa kampanye.
2.1.3. Evaluasi Kampanye
Menurut Gregory (2004:138) evaluasi adalah proses yang berkelanjutan jika kita berbicara tentang program berjangka panjang. Jika dilaksanakan dengan benar, evaluasi memudahkan anda untuk mengendalikan kegiatan Public Relations. Berikut adalah alasan menngapa kita perlu mencantumkan evaluasi dalam kampanye dan program yang kita buat.
1. Memfokuskan usaha
2. Menunjukan keefektifan.
3. Memastikan efisiensi biaya.
4. Mendukung manajemen yang baik.
5. Memfasilitasi pertanggungjawaban.
Sementara evaluasi dilakukan secara teratur, review yang menyeluruh dilakukan dengan frekuensi yang lebih jarang. Setelah memutuskan untuk melakukan review, siklus proses perencanaan akan terulang lagi. Sekali lagi pertanyaan-pertanyaan dasar harus diajukan.
1. Apa yang ingin kita capai?
2. Siapa yang ingin kita jangkau?
3. Apa yang ingin kita katakan?
4. Apa cara yang paling efektif untuk menyampaikan pesan?
5. Bagaimana suskes dapat diukur?
Selain itu, peninjauan kembali terhadap penilaian perencanaan, pelaksanaan selama program dan pencapaian tujuan tertentu suatu kampanye berlangsung secara periodik setiap tahun tujuan program kampanye Public Relations melalui proses input (perolehan riset data, fakta, dan informasi di lapangan), output (kecocokan dengan isi pesan, tujuan dan media yang dipergunakan) dan result (hasil-hasil dari tujuan dan efektivitas program kampanye yang telah dicapai, apakah adanya perubahan sikap atau perilaku khalayak sasaran).
2.2. Hak Politik
Merupakan hak setiap warga negara yang dijamin Undang-undang dan UUD untuk memilih dan dipilih dalam kontestasi politik selama memenuhi kriteria dan persyaratan dari lembaga penyelenggara pemilu.
2.3. Contoh Kasus Hubungan antara Kesadaran Hak Politik Masyarakat dengan Pencapaian Kampanye Politik Pemilihan Kepala Daerah
2.3.1. Contoh Kasus I
Pilgub NTB dan Peran Pemerintah dalam Meningkatkan Kesadaran Hak Politik Masyarakat.
Dalam pemilu Gubenur NTB seperti yang dikatakan Syaroni, Peneliti Yunior Bidang Politik The Indonesian Institute bahwa ada dua bentuk partisipasi politik yang berkaitan dengan momen pemilu seperti saat ini, yaitu ikut serta dalam kampanye pemilu dan memberikan suara dalam pemilihan umum.
Namun, tidak hanya itu saja, banyak kita temukan ketika pemilihan gubenur yang lalu rakyat apatis bahkan tidak mau datang ke tempat pemungutan suara untuk datang memilih atau GOLPUT. Hal ini menandakan bahwa partisipasi dan kesadaran politik masyrakat dalam konteks pilkada masih belum maksimal.
Bukan itu saja, banyak ditemukan seperti pada kasus pemilih yang hanya sekedar menggunakan pilihannya, namun sebenarnya ia hanya asal memilih. Hal demikian juga mendeskrifsikan bahwa partisipasi pemilih dan kesadaran masih kurang. Padahal kesadaran politik akan menghasilkan pilihan yang baik dan sesuai dengan aspirasi yang bersangkutan.
Jeffry M. Paige dalam Surbakti (2007) menyebutkan bahwa variabel penting yang mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat partisipasi politik seseorang, adalah kesadaran politik. Jadi, jika individu memiliki kesadaran politik maka ia akan memiliki kesadaran akan posisi dirinya dalam sebuah tatanan kehidupan bernegara. Wujud dari kesadaran politik salah satunya bentuknya adalah partisipasi politik dalam pilkada.
Dalam https://www.merdeka.com/politik/pilkada-serentak-dan-upaya-membangun-kesadaran-politik-rakyat.html Salah satu cara untuk dan upaya untuk mengkampanyekan atau meningkatkan kesadaran politik masyarakat adalah dengan Pilkada serentak.

BAB III PENUTUP
Kampanye akan berjalan efektif jika dirancang dan dipersiapkan dengan sangat matang dan dengan melalui semua langkah-langkah dengan cermat serta ditambah dengan strategi dan taktik yang cerdas. Kampanye digunakan sebagai alat untuk menuju kekuasaan, namun juga harus diingat bahwa kesadaran dan partisipasi politik masyarakat juga harus dikampanyekan untuk tetap menjaga dan bahkan meningkatkan kualitas dan kuantitas partisipasi politik masyarakat agar sistem demokrasi berjalan dengan baik. 
DAFTAR PUSTAKA
Skripsi
Ferisandi, Eki. 2010. “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Politik pada Pemilihan Walikota Bandar Lampung Tahun 2010”. Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung.
Inditta, Elsha Venca. 2015. “Pemenuhan Hak Politik Penyandang Disabilitas di Kota Bandar Lampung (Disabilitas Tuna Netra)”. Skripsi. Fakultas Hukum Universitas Lampung.

Online
Anonim. 2012. “Perencanaan Strategis Kampanye dan Pelaksanaan Kampanye”. (Online). https://www.slideshare.net/elkhea/kompol-12, diakses tanggal 15 Juni 2019.
Fadil, Iqbal. 2018. “Pilkada Serentak dan Upaya Membangun Kesadaran Politik Rakyat”. (Online). https://www.merdeka.com/politik/pilkada-serentak-dan-upaya-membangun-kesadaran-politik-rakyat.html, diakses tanggal 16 Juni 2019.
Halimatusa’diah. 2010. “Perencanaan Strategis Kampanye PR”. (Online). https://komunitaspr.wordpress.com/2010/06/10/perencanaan-strategis-kampanye-pr/, diakses tanggal 15 Juni 2019.
………. 2010. “Kampanye PR”. (Online). http://www.scribd.com/doc/32808491/Kampanye-PR, diakses tanggal 15 Juni 2019.
Kriyantono, Rachmat. 2014. “Sekilas tentang Perencanaan Kampanye”. (Online). http://rachmatkriyantono.lecture.ub.ac.id/files/2014/09/SEKILAS-TENTANG-PERENCANAAN-KAMPANYE-baru.pdf, diakses tanggal 15 Juni 2019.
Syaroni, Annas. 2014. “Kesadaran Politik Masyarakat dan Kampanye Pemilu”. (Online). https://www.theindonesianinstitute.com/kesadaran-politik-masyarakat-dan-kampanye-pemilu/, diakses tanggal 16 Juni 2019.

Humaedi Suhada
NesiaNet1

0 Comments

Posting Komentar